KARTAISME

KARTAISME
Oleh : Bung Fai

Sebelum aku mengenalkan diri, kalian pasti sudah tahu dong nama ibu kota kita, ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia?
Ya, benar Jakarta.
Kalian juga pasti tahu dong tempat-tempat lain seperti Yogyakarta, Surakarta di Jawa tengah, Purwakarta di Jawa Barat, atau Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, Kecamatan Kartasura di Jawa Tengah, Kerajaan Kartapura di Kalimantan Barat?
Kalian tahu kan nama-nama tempat tersebut?
Ya, nama aku adalah sufiks atau prefiks dari nama-nama tempat yang ku sebutkan di atas. Namaku adalah Karta. Punya mimpi jadi presiden Amerika setelah Donald Trump. Dan aku masih giat buat belajar terbang.
Sebelum aku lahir, Mamangku (Sebutan untuk memanggil Ayah di Desa ku Kamplong) punya cita-cita ingin hidup di belantara Jakarta. Dia sangat mengagumi kota Jakarta dulu. Menurutnya, Jakarta adalah ladang uang. Jakarta adalah kota yang maju yang akan membuat dia makmur. Kelak.
Ya, hingga saat ini badan aku memang makmur, bempal. Tapi itu Cuma badanku ajah. Kalo hidup masih jauh dari kata makmur. Hehehe.
Oh iya, apa kalian tahu apa arti namaku itu?
Belum kan?
Baik, biar aku jelaskan sedikit.
Secara etimologi (asik gaya anak ilmu politiknya keluar, maklum mantan buronan dosen filsafat FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, -read: Cing Ani), Kata Karta diambil dari bahasa Sanskerta yaitu kṛta dan artinya secara harafiah adalah "pekerjaan yang telah dicapai" dari akar kata kṛ yang juga menghasilkan kata "karya" dalam Bahasa Indonesia, gitu. 
Akan tetapi, dalam bahasa Jawa Kuno ada pergeseran semantik dan artinya menjadi "makmur, maju, sedang berkembang, ulung, sempurna". Dan arti yang kedua ini yang biasanya digunakan dalam nama-nama tempat di Nusantara.
Walaupun begitu Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat berpendapat bahwa nama "Jakarta" yang berasal dari kata Jayakarta artinya adalah "kemenangan yang diraih" yang berdasarkan arti pertama dalam bahasa Sanskerta. Gitu.
Nah, kalo menurut kalian arti nama aku yang cocok yang mana? (skip>>)
Di Nusantara, Nama aku ini memiliki beberapa variasi sesuai bahasa dan dialek dari daerah tersebut, sebagai contoh misalnya: -kertó pada tempat-tempat seperti Kota Purwokerto di Banyumas, Jawa Tengah, Kecamatan Wonokerto di Jawa Tengah, Mojokerto (nama desa di Jawa Tengah dan nama kabupaten dan kota di Jawa Timur), Kecamatan Kertosono di Jawa Timur, Kelurahan Girikerto di Sleman, Yogyakarta.
Dan -Kerta pada tempat-tempat seperti Kecamatan Tanjungkerta di Jawa Barat, dan beberapa lainnya.
***
Waktu SMP, aku pernah mendirikan Negara sendiri. Aku adalah presiden yang dipilih secara demokratis oleh teman-temanku. Mereka para pendiri bangsanya ada sekitar 2 orang, yaitu aku sang proklamator dan sahabat sekaribku, Tuying.
Nama Negara kami adalah NKRB. Kepanjangan dari Negara Kesatuan Republik Bahagia. Ideologi kami adalah Kartaisme, ideologi yang mengutamakan kebahagiaan bagi para warga negaranya. Tuying adalah orang yang menemukan ideolgi ini. Sebelum kami memproklamasikan sebagai Negara, Tuying sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk bendera Negara kami. Tanggal 14 Februari 2006, Negara kami diproklamirkan.
Negara ini terbentuk karena atas dasar satu kesamaan nasib. Yaitu, sama-sama jomblo yang tidak bahagia karena ketua kelas yang terlalu otoriter dan tidak memperdulikan nasib kebahagian kami. Seluruh teman kelas kami memiliki pasangan. Hanya aku dan Tuying yang duduk termenung meratapi kebahagian mereka. Bagi kami ini tidak adil. Karena menurut kami kebahagian adalah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, maka kenestapaan di atas dunia ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Hehehe…
Negara kami memiliki wilayah yang cukup luas. Yaitu ruang kelas kami sendiri yang luasnya sekitar 5m x 6m. Hanya di Negara kami orang bebas keluar masuk tanpa permisi. Tanpa visa. Hanya satu syarat yang kami berikan kepada mereka yang ingin singgah di Negara kami, yaitu bahagia. Mereka harus bahagia. Jika mereka tidak bahagia di Negara kami, maka kami usir mereka.
Kami menolak kesedihan. Kami melawan kenestapaan. Air mata tidak diizinkan jatuh di sela-sela pipi penduduk kami. Semua harus tertawa. Semua harus bahagia. Sampai akhirnya kita akan lupa dengan luka.
Negara kami juga memiliki dasar Negara sendiri, yang kami sebut dengan nama Panca Bahagia. Bunyi butir-butirnya, yaitu:
Ketuhanan yang maha bahagia
Butir ini menjelaskan bahwa tuhan itu pasti menciptakan manusia untuk bahagia. Oleh sebab itu, jika manusia itu tidak bahagia, maka mereka bukan lagi disebut manusia. Buat apa menjadi manusia tapi tidak bahagia? Benarkan?
Kemanusiaan yang adil dan berbahagia
Manusia yang adil itu pasti tahu bagaimana mereka harus berbahagia. Karena memang mau tidak mau pada hakikatnya mereka harus bahagia. Dasar kemanusiaan merekapun pasti menginginkan mereka untuk selalu berbahagia. Jadi buat apa kalo manusia tidak bahagia. Pokoknya hidup bahagia!
Persatuan untuk kebahagiaan
Ya. Manusia harus bersatu dan berdaulat untuk mencapai suatu kebahagiaan. Tumpas segala duka. Lawan segala luka. Musnahkan segala nestapa. Manusia harus bersatu, harus bahagia.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebahagiaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Manusia harus bermusyawarah dan merumuskan rumus bahagia itu seperti apa. Bahagia adalah tujuan akhir bagi warga Negara.
Kebahagiaan sosial bagi seluruh rakyat NKRB.
Sebagai makhluk sosial, warga Negara NKRB harus bisa bahagia secara sosial. Harus peka satu sama lain jika yang lain terlihat tidak bahagia. Warga Negara itu harus sesegera mungkin membuat yang lain itu berbahagia kembali. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Ya. Begitulah Negaraku berdiri ketika SMP. Setelah lulus SMP, Negaraku bubar. Bukan karena inflasi. Bukan karena revolusi. Dan juga bukan karena dijajah oleh Negara lain. Apalagi perang dunia ke III. Barang tentu bukan.
Negara kami bubar karena kami harus kembali melanjutkan hidup. Melanjutkan pada dunia selanjutnya. Dunia SMA. Dunia yang hanpir nyata.
Kami sang pendiri Negara menyatakan berpisah. Dan tidak ada lagi yang pantas untuk melanjutkan tongkat estafet pemerintahan kami. Kami cukupkan dan bubar jalan.
BYE NKRB

_Kelakar Sang Presiden

0 Response to "KARTAISME"

Posting Komentar