Karta dan Bung Fai

Karta Dan Bung Fai
Oleh : Bung Fai

23 November 2017, aku menghadiri acara peluncuran buku Bung Fai yang berjudul Remaja Dari Karta, di PD AL-Mahabbah, Tebet. Bung Fai adalah teman Anna. Anna bertemu Bung Fai di Jakarta. Mungkin dari Anna, Bung Fai tahu no.kontakku.
Remaja dari Karta adalah kisah asmaraku dengan Anna. Aku sudah membaca salinan bukunya. Bung Fai mengirimiku lewat email. Buku itu terispirasi dari surat-surat aku dan Anna. Tulisannya aku akui berbeda dengan yang lain. Sedikit dipengaruhi dengan gaya penulisan Amir Hamzah, penyair pujangga lama. Dan ada pengaruh dari Seno Gumira Ajidarma. Belum banyak penulis yang menulis seperti bercerita dari hati ke hati seperti ini. Meski begitu ceritanya tetap kuat. Sebagai penikmat sastra aku akui aku suka karyanya itu.
Saat selesai acara, Bung Fai menghampiriku. Dan dia berharap bisa menulis banyak tentangku.
“Aku ini bukan pahlawan, Bung? Bukan juga yang ada di makam pahlawan? Masa sampeyan mau nulis tentang aku? Mau nulis apanya?”
“Apa ajah, Kang. Kalo denger dari cerita dari Anna, Kang Karta ini punya pribadi yang seru.”
“Seru apanya? Aku bukan satria baja hitam kok?”
“Udah Kang, mau yah? Kan seru nulis sesuatu tentang penulis.”
“Heum, gimana ya? Kayaknya seru sih menulis sisi lain dari sang penulis. Tapi aku gak mau kayak tulisanmu yang sebelumnya itu. Terlalu sedih. Pedih. Menyayat-nyayat Hati. Takut orang-orang makin kasihan sama aku.”
“Hahaha… Ok, Kang.”
“Oh iya, tulisanmu nanti harus bisa menghibur dan juga bisa memberi pengetahuan. Jangan jadi sekedar tulisan doang.”
“Beres, Kang. Rencana sih aku pengen nulis tentang cerita-cerita lucu. Kan kata Anna, Kang Karta ini punya banyak stok cerita lucu. Cerita lucu ini yang buat Anna kesemsem sama Kang Karta.
“Hahahaha, ngawur. Bisaan dia ajah itu mah.”
“Kang Karta masih nulis kan?”
“Masih. Kenapa?”
“Enggak apa-apa, sekalian mau belajar nulis juga sama Kang Karta. Kan aku baru belajar nulis, Kang?”
“Oh, gitu. Ah, gampang itu mah. Dengan sendirinya juga kamu nanti bisa nulis bagus. Yang penting kamu rajin baca, rajin observasi, rajin nyatet. Itu sih menurut aku.”
“Oh gitu, Kang.”
“Dan satu lagu, catet ya?”
“Apa, Kang?”
“Ini quotes bagus. INSPIRASI ITU MUDAH LARI, HANYA PENA YANG MAMPU MENANGKAPNYA.”
“Weh, keren, Kang. Ok Kang aku catet.”
“Oh, iya, Bung. Aku sebenernya mau nulis tentang tempat kelahiranku, Indramayu. Kalo bisa nanti dimasukan ajah yah sekalian?”
“Heum, bagus juga sih, Kang. Menghiburnya dapet, kasih pengetahuannya juga dapet. Cocok, Kang.”
“Bungkus.”
“Bung Fai, Kang?”
“Hahahahahaha”


_Kelakar Sang Presiden

0 Response to "Karta dan Bung Fai"

Posting Komentar